Sikap Netizen Twitter terhadap Vaksinasi

Pemberian vaksin COVID-19 merupakan salah satu upaya untuk menangani pandemi yang masih berlangsung di Indonesia. Dengan dimulainya program vaksinasi COVID-19 pada bulan Januari 2021 kemarin, netizen Twitter menyuarakan pendapat mereka, baik yang pro maupun kontra.

Datains
8 min readFeb 22, 2021
Image by torstensimon from Pixabay

Hampir setahun berlalu semenjak wabah COVID-19 dinyatakan masuk ke Indonesia. Selama setahun ini pula telah banyak kebijakan yang diberlakukan, mulai dari aturan protokol kesehatan bagi semua kalangan masyarakat, karantina wilayah (lockdown), work from home bagi karyawan perusahaan, pembelajaran jarak jauh bagi pelajar dan mahasiswa, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), dan aturan-aturan lainnya baik dalam skala regional maupun nasional.

Dengan keterbatasan-keterbatasan ini tentunya kita juga menanti kembalinya masa normal. Oleh karena itu, banyak ahli menyatakan perlunya vaksinasi untuk terciptanya herd immunity.

Indonesia memulai program vaksinasinya dengan menginokulasi Presiden Jokowi dengan vaksin Sinovac pada tanggal 13 Januari 2021. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan melakukan inokulasi pada sejumlah tokoh pilihan dan ratusan ribu tenaga medis. Rencana pemerintah melakukan vaksinasi pada setidaknya sekitar 70% penduduk diharapkan dapat menekan angka infeksi COVID-19 dan memulihkan kondisi masyarakat kembali ke normal.

Meskipun demikian, langkah vaksinasi ini bukan tanpa tantangan. Vaksinasi sebagai harapan kembali ke normal tidak serta merta disambut hangat oleh masyarakat. Seiring isu tentang percobaan pembuatan vaksin COVID-19 menyebar di media pada awal pandemi, isu ini acap kali menuai skeptisisme masyarakat. Berbagai macam informasi yang menuai opini pro dan kontra mengenai vaksin COVID-19 terus beredar di masyarakat melalui kanal-kanal media sosial seperti Twitter.

Dalam tulisan kami mencoba menganalisis tanggapan masyarakat dari waktu ke waktu mengenai vaksin COVID-19 yang disampaikan melalui Twitter.

Popularitas Vaksin Sinovac di Indonesia

Data sejumlah 490 ribu tweets berbahasa Indonesia, dengan karakteristik mengandung kata “vaksin”, “sinovac”, “sinopharm”, “astrazeneca”, dan “pfizer” berhasil diperoleh selama periode 1 Januari 2020 (sebelum pandemi) hingga 31 Januari 2021 dari platform Twitter.

Timeline di atas menunjukkan jumlah tweets yang berkaitan dengan vaksin dari waktu ke waktu selama setahun terakhir.

Di bulan-bulan awal tahun 2020 ketika pandemi baru muncul, belum banyak pembicaraan mengenai vaksin yang terjadi. Perbincangan mengenai vaksin baru mulai memperoleh perhatian pada Juli 2020, namun sempat turun pada periode Oktober hingga November 2020.

Kemudian seiring dengan kedatangan vaksin Sinovac dan dimulainya program vaksinasi di Indonesia, kenaikan jumlah tweets mengenai vaksin yang sangat signifikan terjadi pada bulan Desember 2020 dan Januari 2021.

Ada banyak vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh para ahli di seluruh dunia, di antaranya seperti Oxford-AstraZeneca (Inggris dan Swedia), Pfizer-BioNTech (Amerika Serikat dan Jerman), Novavax (Amerika Serikat), Sinopharm (China), Sinovac (China), dan sebagainya. Di Indonesia sendiri, pemerintah mencanangkan penggunaan vaksin Sinovac untuk melaksanakan program vaksinasi.

Keputusan penggunaan vaksin Sinovac oleh Pemerintah Indonesia ini mengakibatkan Sinovac menjadi vaksin yang paling banyak disebut di antara vaksin-vaksin lainnya. Dari keseluruhan tweets yang menyebut nama-nama vaksin seperti disebutkan sebelumnya, 85% di antaranya membicarakan vaksin Sinovac.

Pada grafik di atas kita dapat melihat bahwa jika dibandingkan dengan vaksin-vaksin lain, tweets mengenai Sinovac mengalami kenaikan jumlah terbanyak dari November ke Desember 2020 dan ke Januari 2021, jauh di atas tweets mengenai vaksin yang lain. Hal ini karena keputusan pemerintah menggunakan vaksin Sinovac untuk masyarakat Indonesia dan dimulainya program vaksinasi sejak Januari 2021.

Apabila grafik per bulan tersebut dipecah ke bentuk per hari, maka kita dapat lonjakan tweets yang terjadi pada hari-hari tertentu. Umumnya, lonjakan jumlah tweets ini berkorelasi dengan berita mengenai vaksin yang sedang tren pada waktu tersebut.

Pada tanggal 22 Juli 2020 terjadi lonjakan pertama tweets tentang vaksin. Pada tanggal ini Presiden Joko Widodo mengumumkan melalui akun Twitter-nya bahwa uji klinis tahap ketiga vaksin COVID-19 mulai dilaksanakan di Indonesia. Tweet tersebut mendapat banyak retweets dan tanggapan dari netizen.

Sementara pada tanggal 7 Desember 2020 lonjakan tweets terjadi karena berita mengenai 1,2 juta vaksin Sinovac yang baru saja tiba di Indonesia.

Lonjakan berikutnya terjadi pada tanggal 5 Januari 2021. Pada tanggal tersebut diberitakan pengawalan distribusi vaksin Sinovac oleh Polri ke berbagai daerah di Indonesia.

Terakhir, lonjakan terbesar terjadi pada tanggal 13 Januari 2021. Pada tanggal ini dan setelahnya, netizen ramai membicarakan Presiden Joko Widodo yang menjadi orang pertama yang disuntik vaksin COVID-19. Hal ini menjadi momen bersejarah karena sekaligus juga menjadi awal program vaksinasi COVID-19 di Indonesia.

Sentimen terhadap Vaksin Sinovac dari Waktu ke Waktu

Sentimen tweets mengenai vaksin COVID-19 bervariasi dari waktu ke waktu. Seperti tergambar pada grafik berikut, pada awalnya di sekitar bulan April hingga Agustus 2020, tweets tentang vaksin cenderung netral atau positif. Seiring waktu hal ini mulai berubah dan kecenderungan akan tweets dengan sentimen negatif mulai muncul. Hal ini terjadi seiring dengan munculnya berita mengenai efikasi masing-masing vaksin yang disampaikan di media.

Pada bulan Januari 2021 kemarin, ketika program vaksinasi di Indonesia mulai dijalankan, tweets yang berhubungan dengan vaksin naik drastis, namun begitu pula tweets dengan sentimen negatif. Hal ini menunjukkan pandangan masyarakat yang berubah-ubah seiring dengan informasi yang beredar.

Mentions dan Hashtags Terpopuler

Berkaitan dengan vaksin, netizen paling banyak me-mention akun-akun pejabat publik seperti Presiden @jokowi, Gubernur Jawa Barat @ridwankamil, dan akun-akun pelayanan publik seperti @HumasPolres_Bjn, @1trenggalek, serta akun-akun berita seperti @CNNIndonesia, @detikcom, @kompascom, dan sebagainya.

Akun Twitter @jokowi paling banyak di-mention atau disebut oleh netizen jauh di atas akun-akun lainnya. Salah satu penyebabnya karena Jokowi juga aktif memposting informasi terbaru mengenai perkembangan vaksin di Indonesia. Sedangkan akun-akun pelayanan publik seperti @1trenggalek @DivHumas_Polri aktif memposting himbauan tentang protokol kesehatan dan informasi pengawalan pendistribusian vaksin.

Hashtags paling populer yang banyak digunakan oleh netizen Twitter berkaitan dengan vaksin di Indonesia dapat digambarkan pada grafik di atas. Dari segi hashtags lebih banyak hashtags yang mendukung atau mempromosikan vaksinasi daripada yang kontra. Beberapa hashtags di antaranya bersifat informatif, sementara sejumlah hashtags lainnya tidak memiliki keterkaitan dengan vaksin atau pandemi.

Peran Akun Informal dan Media Online di Social Network Analysis (SNA) terhadap Isu Vaksin

Dengan pendekatan social network analysis, kita dapat menemukan aktor-aktor yang berperan besar dalam persebaran informasi dan pengaruh mereka. Hubungan dan pengaruh antaraktor ini dapat digambarkan dalam grafik SNA berikut.

Dalam SNA akan terlihat jejaring yang terbentuk dari pembicaraan. Aktor-aktor inti yang memiliki influence atau pengaruh besar terhadap pembicaraan di kelompoknya ditampilkan dalam ukuran teks yang lebih besar. Semakin besar ukuran teks menggambarkan semakin besar pula pengaruh mereka.

Hubungan yang terbentuk di antara kelompok-kelompok ini masih samar terlihat karena tidak ada polarisasi yang kuat dari hasil interaksi antarpengguna atau antarkelompok. Meskipun demikian, kita masih dapat menganalisis beberapa hal dari grafik SNA di atas.

Akun-akun berita seperti @BBCIndonesia, @kompascom, @detikcom, @kumparan, @VIVAcoid, dan akun lainnya seperti akun informal @kurawa, akun-akun politisi dan pemerintah seperti @budimandjatmiko @fahrihamzah, @jokowi dan @ridwankamil memiliki pengaruh besar sebagai aktor penyebaran informasi dalam jejaring mereka.

Melihat persebaran jejaring sesuai SNA di atas, kita bisa melihat beberapa jejaring yang terbentuk. Dalam hal ini, jejaring yang dimiliki @Fahrihamzah, @hnurwahid, dan @DandhyLaksono dan jejaring yang dimiliki @budimandjatmiko, @kurawa, dan @dr_tompi sama-sama berinteraksi dengan akun-akun berita seperti @CNNIndonesia, @BBCIndonesia, @VIVAcoid, dan sebagainya. Dalam kata lain, akun-akun berita tersebut berperan sebagai penyedia informasi terhadap jejaring-jejaring tadi.

Di dalam jejaring ini pula kita dapat melihat pengaruh akun-akun yang berhubungan dengan bidang kesehatan seperti dokter @dr_tompi dan @dirgarambe terhadap jejaring mereka masing-masing. Meskipun demikian, akun-akun tersebut belum menjadi pusat informasi karena jika dibandingkan dengan interaksi akun politisi, akun informal, dan akun berita online dengan pengguna Twitter umumnya, interaksi akun-akun yang berkaitan dengan bidang kesehatan tadi dengan pengguna Twitter lainnya masih minimal.

Dalam hal ini kita bisa menyimpulkan bahwa di dunia media sosial Indonesia, akun-akun media online, akun-akun politisi dan akun-akun informal akun informal masih berperan besar dalam penyebaran informasi. Hal ini sayangnya tidak diiringi dengan pengaruh dari akun-akun di bidang kesehatan lainnya yang memiliki pemahaman tentang pandemi dan vaksin yang lebih valid dan kredibel.

Secara umum, SNA di atas menunjukkan bahwa pengaruh pemberitaan di media mengenai vaksin yang diiringi oleh opini dari para politisi dan akun informal lain akun informal lebih besar dan banyak daripada akun-akun bidang kesehatan. Opini pro dan kontra yang muncul di masyarakat mengenai vaksin banyak dipengaruhi oleh akun-akun yang dominan ini.

Di situasi yang lebih ideal, akun-akun yang berkaitan dengan bidang kesehatan seperti dokter atau ahli epidemiologi yang memiliki pengetahuan khusus terhadap penanganan pandemi dan vaksin perlu memiliki pengaruh yang sama atau bahkan lebih besar daripada akun-akun lainnya. Harapannya, hal ini dapat mengarah kepada terciptanya lingkungan daring dengan informasi yang lebih berimbang sehingga dapat mencegah persebaran hoax, namun juga tetap kritis terhadap informasi yang beredar.

Kesimpulan

Setelah hampir setahun lamanya Indonesia menghadapi pandemi COVID-19, akhirnya distribusi vaksin Sinovac di Indonesia telah dimulai pada tanggal 13 Januari 2021 lalu. Dari 490 ribu data mengenai vaksin COVID-19 yang berhasil dihimpun dari Twitter, kita dapat menyimpulkan beberapa hal.

Pertama, perbincangan mengenai vaksin oleh para pengguna Twitter sudah dimulai sejak awal pandemi, meskipun jumlahnya belum terlalu banyak. Pembicaraan semakin meningkat ketika vaksin tersebut tiba dan mulai digunakan di Indonesia pada awal 2021 kemarin. Umumnya, kenaikan jumlah tweets tentang vaksin cenderung terjadi bersamaan dengan pemberitaan vaksin di media. Dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa media berperan besar dalam membentuk persepsi mengenai vaksin di masyarakat, terutama Twitter.

Kedua, sentimen tanggapan masyarakat mengenai vaksinasi pun juga berubah dari waktu ke waktu. Pada awalnya, sentimen terhadap vaksin COVID-19 cenderung netral atau positif. Seiring waktu, dengan masuknya vaksin Sinovac ke Indonesia, mulai bermunculan tweets dengan sentimen negatif di Twitter yang mempertanyakan efikasi vaksin dan skeptisisme lainnya.

Ketiga, aktor-aktor yang berperan besar dalam penyebaran informasi mengenai vaksin di media sosial saat ini masih didominasi oleh media online, akun politisi dan pemerintah, serta akun-akun informal. Dalam kata lain, netizen Twitter masih memiliki ketertarikan yang lebih tinggi terhadap akun-akun ini daripada akun-akun yang berhubungan dengan kesehatan seperti dokter atau ahli epidemiologi.

Dari ulasan ini kita mengetahui bahwa masyarakat, terutama pengguna Twitter, memperhatikan langkah-langkah pemerintah dalam menangani pandemi, salah satunya dengan pelaksanaan program vaksinasi. Pendapat pro dan kontra mengenai isu ini adalah hal yang tidak dapat dihindari. Meskipun demikian, kita tetap berharap distribusi vaksin oleh pemerintah dapat berjalan lancar sehingga dapat menekan angka laju infeksi COVID-19 di Indonesia.

Referensi

  1. https://www.nytimes.com/interactive/2020/science/coronavirus-vaccine-tracker.html
  2. https://nasional.kontan.co.id/news/bukan-psbb-pemerintah-pakai-istilah-baru-ppkm-dalam-pembatasan-kegiatan-ini-bedanya
  3. https://nasional.tempo.co/read/1427586/vaksinasi-70-persen-penduduk-menkes-target-sehari-1-juta-orang-divaksin/full&view=ok
  4. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20201211170137-25-581053/alasan-pemerintah-pilih-vaksin-sinovac
  5. https://www.cnbcindonesia.com/news/20210113061004-4-215467/hari-ini-jokowi-divaksin-corona-pukul-1000-wib-di-istana
  6. https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-01631056/vaksin-asal-tiongkok-yang-diuji-di-kota-bandung-terbuat-dari-virus-covid-19-tim-uji-tidak-bahaya
  7. https://www.kompas.com/tren/read/2020/12/07/124738065/12-juta-dosis-vaksin-covid-19-tiba-di-indonesia-siapa-yang-jadi-prioritas?page=all

--

--