Pengaruh Pandemi COVID-19 terhadap Tren Berlibur Masyarakat

Pantai Pandawa, Bali (Photo by kilarov zaneit on Unsplash)

Selama setahun terakhir sektor pariwisata dan sektor transportasi merupakan dua sektor yang paling terdampak pandemi. Pembatasan aktivitas masyarakat yang disertai pembatasan perjalanan ke luar wilayah untuk menekan angka penyebaran COVID-19 menjadi penyebab kedua sektor tersebut mengalami kerugian yang besar.

Besarnya kerugian ini dapat dilihat pada sektor transportasi udara misalnya, jumlah penerbangan domestik harian dari dan menuju Jakarta menurun sebesar 67–69% sedangkan pada penerbangan internasional penurunan terjadi sebesar 69–70%. Sementara itu di Bali penurunan jumlah penerbangan menjadi salah satu yang terparah, yaitu terjadi penurunan sebesar 69% pada penerbangan domestik. Terjadi penurunan sebesar 71% pada keberangkatan internasional dari Denpasar dan 94,9% kedatangan internasional menuju Denpasar.

Penurunan secara nasional wisatawan mancanegara di tahun 2020 mencapai 75,03% dan wisatawan lokal sebesar 61%. Hal ini tentunya memberikan efek yang besar dan mengancam 13 juta pekerja di sektor pariwisata atau sekitar 11% dari jumlah pekerja nasional.

Penurunan aktivitas pariwisata dan perubahan pola perilaku masyarakat yang kini cenderung menjalankan aktivitas dari rumah akibat pandemi memunculkan pertanyaan tentang bagaimana pandemi mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat saat hari libur dalam melakukan wisata. Pertanyaan lainnya adalah mengenai tren wisata apa yang muncul di masyarakat akibat fenomena tersebut. Dengan menjawab kedua pertanyaan ini diharapkan kita dapat menemukan rekomendasi baik bagi pelaku usaha wisata maupun wisatawan itu sendiri dalam menyikapi pandemi.

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, kami melakukan pengumpulan data review wisata berbahasa Indonesia pada platform Online Travel Agent untuk memodelkan topik pembicaraan review. Bali dipilih menjadi lokasi pengambilan data pada periode sebelum pandemi (Maret 2019 s.d. Februari 2020) dan saat pandemi (Maret 2020 s.d. Februari 2021) untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Data yang diambil adalah data kategori wisata berupa hotel dan tempat wisata (attractions). Kategori wisata hotel diambil untuk melihat pola kunjungan ke hotel saat sebelum dan setelah pandemi terjadi, sedangkan tempat wisata digunakan untuk melihat perubahan pola atraksi wisata sebelum dan setelah pandemi. Secara umum deskripsi jumlah datanya adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Data review hotel dan attraction platform TripAdvisor sebelum & saat pandemi

Dari hasil pengumpulan 5 nama tempat wisata di Bali yang memiliki jumlah review terbesar, data sebelum pandemi menunjukkan jenis tempat yang beragam, tidak hanya wisata pantai yang menjadi simbol wisata di Bali, seperti villa dan resort. Jumlah review secara umum berkisar 15 sampai dengan 20 review. Sedangkan pada saat pandemi, 5 tempat dengan review terbanyak diisi oleh tempat perbelanjaan dan pantai dengan jumlah review kurang dari 10 pada setiap tempat.

Sedangkan untuk jenis hotel, data sebelum pandemi menunjukkan dominasi villa dengan jumlah review sebanyak 15 sampai 25 review. The Jimbaran Villa merupakan villa yang paling banyak memperoleh review selama bulan-bulan sebelum pandemi. Review yang berbeda terjadi di saat pandemi, dimana resort menjadi tempat yang dominan untuk diberi review dengan jumlah review berkisar 10 hingga 17.

Perubahan Perilaku dan Fenomena Staycation

Timeline Jumlah Review Tempat Wisata (Attraction) dan Hotel

Secara umum, pada periode sebelum pandemi (Maret 2019 — Februari 2020) jumlah review yang dihasilkan baik pada tempat wisata dan hotel dari waktu ke waktu cenderung statis naik dan turun. Setelah pandemi, menurut data yang diambil bulan Maret 2020 hingga Februari 2021, review attraction di Bali mengalami penurunan, sedangkan review hotel mengalami kondisi sebaliknya, ada peningkatan yang cenderung tinggi di bulan tertentu. Hal ini dapat disimpulkan bahwa telah terjadi pergeseran perilaku liburan masyarakat dari destinasi wisata yang biasanya ke tempat atraksi seperti pantai dan kunjungan lainnya menjadi liburan di hotel atau staycation. Pola staycation ini bisa jadi dilakukan oleh warga lokal atau warga sekitar Bali karena adanya pembatasan akses wilayah ke Bali.

Topik yang Muncul Pada Review Hotel

Setelah mendapatkan hasil bahwa review hotel mengalami kenaikan saat pandemi, kita perlu menganalisis lebih lanjut pembicaraan apa yang dibahas dalam review. Analisis sentimen dan pemodelan topik menjadi pilihan untuk mendapatkan kesimpulan topik dan kesan review yang muncul. Dari hasil prediksi sentimen, didapatkan hasil sebagai berikut.

Grafik Sentimen Review

Ternyata, untuk proporsi sentimen memiliki perbandingan persentase yang mirip sebelum dan saat pandemi walau jumlah datanya berbeda. Untuk mendapatkan model topik apa yang dibicarakan, diambil data dari sentimen positif dan dilakukan pemodelan topik menggunakan metode soft-cluster. Topik-topik yang dirasa mirip dikelompokkan menjadi satu dan disimpulkan. Dari hasil clustering dan pengelompokkan topik, didapat hasil model topik dengan proporsi sebagai berikut.

Gambar Pemodelan Topik Sebelum dan Saat Pandemi Berlangsung

Dari hasil pemodelan, pada saat sebelum pandemi review yang paling banyak dibahas adalah mengenai staff hotel yang responsif dan banyak membantu pelanggan. Selanjutnya selain membahas staff, review yang banyak muncul juga mengenai lokasi, dilanjutkan dengan fasilitas dan keamanan, harga yang murah dengan kualitas pelayanan yang baik, serta fasilitas kolam renang dan ruangan dan view yang romantis.

Hal ini berbeda saat memodelkan data saat pandemi, di mana selain keenam topik itu, terdapat tambahan topik lain yang spesifik membahas seperti akses internet dan kelengkapan device, komentar mengenai restoran, dan juga review spesifik tentang makanan dan hal lainnya. Selain staff, bahasan mengenai fasilitas yang aman dan amenities seperti kolam renang menjadi bahasan utama saat terjadinya pandemi.

Kesimpulan

Terjadinya pandemi COVID-19 memberikan efek buruk yang signifikan bagi pelaku usaha bidang pariwisata. Untuk menghindari efek yang lebih buruk diperlukan analisis kebutuhan pasar mengenai perilaku masyarakat saat berwisata di masa pandemi untuk menemukan pola wisata yang baru dengan melakukan inovasi dari wisata yang sudah ada.

Hasil analisis bahasan review tempat wisata dan hotel menunjukkan perubahan perilaku wisata berupa adanya fenomena staycation yang akhirnya juga menuntut inovasi untuk memenuhi kebutuhan fenomena tersebut. Pelayanan staff yang baik, fasilitas yang nyaman dan aman, harga yang terjangkau, serta tersedianya fasilitas seperti kolam renang dan internet yang memadai dapat menjawab kebutuhan liburan staycation. Melihat hal ini, diharapkan akan adanya inovasi dari pelaku usaha pariwisata yang memenuhi kebutuhan tersebut baik dalam platform hotel, villa, resort, ataupun kunjungan bentuk lain yang bisa mengembalikan gairah ekonomi pariwisata di Indonesia.

Referensi

https://www.bps.go.id/publication/2020/06/01/effd7bb05be2884fa460f160/tinjauan-big-data-terhadap-dampak-covid-19-2020.html

--

--

Inspiring The World with Data www.datains.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store