Menyingkap Evolusi Tata Ruang Jakarta: Analisis dari Perspektif Historis dan Geografis

Datains
6 min readJun 6, 2023
Photo by Rifki Kurniawan on Unsplash

Kota merupakan wilayah kompleks yang terbentuk oleh aktivitas manusia di dalamnya. Kondisi kota sering dikaitkan dengan pembangunan di dalam kota. Seiring dengan gencarnya aksi komunitas peduli lingkungan dalam memperlambat laju pemanasan global, orientasi pembangunan kota ditekankan ke arah pembangunan kota berkelanjutan. Pembangunan kota berkelanjutan tersebut dapat dilihat dari beberapa indikator, terutama dari tingkat kebahagian warga (Human Happiness Index), inklusivitas sarana dan prasarana intrakota, dan minimnya polusi udara yang ditimbulkan dari aktivitas manusia maupun konfigurasi ruang di dalam perkotaan untuk menyerap polusi yang dihasilkan. Pembangunan kota berkelanjutan juga masuk ke dalam poin SDGs no.11 berupa ‘Kota dan komunitas berkelanjutan’ (Sustainable Cities and Communities).

Dengan jumlah penduduk mencapai 10,64 juta jiwa (BPS, 2022), Jakarta menjadi satu dari sekian kota metropolitan dunia yang memiliki target menciptakan kemajuan regional berorientasi pembangunan inklusif. Usaha tersebut mulai tampak dari dimulainya branding kota Jakarta menjadi ‘+Jakarta’ dengan motto berupa ‘Kota Kolaborasi’ pada tahun 2019. Tentunya usaha merias diri tidak hanya cukup di permukaan sehingga diperlukan pula usaha merombak penataan ruang yang menjadi permasalahan umum sebagian besar kawasan perkotaan besar. Setiap bagian dari wilayah jakarta memiliki karakteristik tersendiri dimana perumahan yang didominasi hunian tapak beriringan dengan RTH kota serta pusat aktivitas masyarakat (Kantor, Niaga, Transportasi, dsj.). Oleh karena itu, usaha ini dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi kegiatan dan hunian warga dengan meminimalkan adanya pertumbuhan hunian liar dengan kualitas rendah.

Melalui agregasi data RDTR DKI Jakarta tahun 2022 menggunakan grid H3 Index, pembaca dapat melihat variasi pemanfaatan ruang di kawasan Jakarta yang telah dikelaskan menjadi tiga kategori, yaitu zona Ekologi (Ecology), zona Aktivitas (Activity), dan zona Perumahan (Home). Grid H3 merupakan grid heksagonal yang dapat mengagregasi berbagai data spasial secara terstruktur dan hierarkis, baik pada tingkat lokal maupun tingkat global (Uber, 2018). Untuk memahami lebih lanjut mengenai tata ruang DKI Jakarta, pembaca perlu memahami mengenai penetapan kelas zona sebagaimana yang ditetapkan dalam Pergub Prov. DKI Jakarta no.31 Tahun 2022 tentang Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Perencanaan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sembilan Belas zona tersebut adalah:

  1. Zona Perumahan
  2. Zona Ekosistem Mangrove
  3. Zona Konservasi
  4. Zona Pariwisata
  5. Zona Pertanian
  6. Zona RTH
  7. Zona Hutan Produksi
  8. Zona Hutan Lindung
  9. Zona Perlindungan Setempat
  10. Zona Perikanan
  11. Zona Kawasan Peruntukan Industri
  12. Zona Perdagangan dan Jasa
  13. Zona Perkantoran
  14. Zona Transportasi
  15. Zona Pelayanan umum
  16. Zona Badan Air
  17. Zona Badan Jalan
  18. Zona Pembangkit Tenaga Listrik
  19. Zona Pertahanan dan Keamanan

Kategori Home ditunjukkan oleh nomor 1, kategori ecology ditunjukkan oleh no.2 hingga no.10, sedangkan kategori activity ditunjukkan oleh no.11 hingga no.15. Melalui gambaran tersebut, kita dapat mengetahui bahwa kategori ecology secara asumsi akan jarang bahkan hampir tidak dijumpai oleh warga pada hari kerja (weekday), berbanding terbalik dengan dua kategori lainnya dimana kategori tersebut dibentuk oleh aktivitas harian manusia.

Gambar Pembagian Susunan Zonasi Berdasarkan Kategori
Gambar Persebaran Agregasi Zonasi di Jakarta

Berdasarkan hasil pemantauan, diketahui terdapat beberapa wilayah yang didominasi masing-masing kategori zonasi. Secara garis besar, kategori ekologi berada di bagian barat Jakarta Utara dan bagian tenggara Jakarta Timur; kategori aktivitas berada di kawasan tengah Jakarta Utara — kawasan Sudirman Jakarta Selatan; kategori rumah tersebar di seantero Jakarta.

Kawasan Ekologis

Gambar Persebaran Agregasi Zonasi Ekologi di Jakarta

Kawasan ekologi di Jakarta sebagian besar merupakan RTH kota yang terdiri atas RTH lurus di pinggir jalan dan taman-taman tingkat RT/RW maupun taman kota. Meskipun begitu, penyumbang terbesar luasan RTH terbesar dimiliki oleh lapangan golf. Di kawasan segitiga emas Jakarta (Jl. MH Thamrin, Jl. H.R. Rasuna Said, Jl. Jenderal Sudirman, dan Jl. Jenderal Gatot Subroto) yang banyak dilingkupi gedung-gedung bisnis dan perkantoran, kehadiran taman RTH juga cukup penting mengingat kawasan tersebut berada dalam objek vital negara sehingga diperlukan spotlight khusus yang dapat merepresentasikan Indonesia secara simbolis. Contoh RTH tersebut adalah kawasan sekitar Monumen Nasional (Monas), taman di sepanjang jalan MH Thamrin, dan kawasan Kota Tua yang sekarang telah direvitalisasi.

Photo by Taman Mangrove Jakarta

Di bagian utara Jakarta dekat kawasan PIK, kita dapat menjumpai kawasan ekosistem mangrove yang dirawat oleh Pemprov DKI Jakarta sebagai upaya dalam melindungi habitat asli pesisir rawa Jakarta serta membantu memperlambat laju abrasi pantai DKI Jakarta. Kawasan ini juga merupakan kawasan ecotourism yang dapat menjadi alternatif kawasan wisata bertema urban. Beralih ke kawasan Jakarta Timur, sebagian besar kawasan perumahan ‘Kampung Kota’ yang ada masih diselingi kawasan agrikultur seperti sawah sehingga secara teknis, RTH ini turut menyumbang kontribusi pendinginan suhu di kawasan Jakarta.

Foto Aerial kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Photo by Kaskus.co.id

Kawasan Aktivitas

Gambar Persebaran Agregasi Zonasi Aktivitas di Jakarta

Kawasan aktivitas di Jakarta berdasarkan peta di atas memiliki pola dan keunikan di masing-masing wilayah, sebagian besar berada di kawasan segitiga emas Jakarta yang menjadi kawasan terbesar penyumbang pembangunan pencakar langit, di samping kawasan kategori aktivitas lainnya yang berada di pinggiran jalan tol, jalan arteri, dan jalan kolektor. Di kawasan utara Jakarta, aktivitas masyarakat tersebut berubah menjadi kawasan pergudangan dan pabrik yang menyerap tenaga kerja yang cukup besar. Hal ini turut didukung dengan lokasinya yang berdekatan dengan pelabuhan Tanjung Priok sehingga banyak dijumpai kendaraan unik yang umumnya dikerahkan untuk menangani pekerjaan proyek di wilayah itu. Di bagian selatan kawasan Halim, terdapat sebuah hotspot kegiatan aktivitas yang jika kita telusuri merupakan kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Taman hiburan yang dibangun oleh presiden Soeharto ini merupakan kawasan pariwisata yang merepresentasikan seluruh kebudayaan yang tersebar di seluruh Indonesia, terlihat dari tata letak taman yang membentuk kepulauan Nusantara.

Kawasan Perumahan

Gambar Persebaran Agregasi Zonasi Hunian di Jakarta

Kawasan perumahan di Jakarta sebagian besar tersebar merata di seluruh penjuru kawasan Jakarta, lengkap dengan berbagai macam jenis perumahan dimulai dari hunian vertikal seperti apartemen ataupun rusun serta hunian masyarakat lokal seperti Kampung Kota. Kepadatan tersebut juga dipengaruhi oleh letak kawasan perumahan yang umumnya berada di pinggiran wilayah Jakarta serta berdekatan dengan akses jalan yang strategis. Hal ini dapat kita lihat pada peta di atas, kawasan dengan visualisasi berwarna lebih gelap cenderung bergerak ke arah pinggiran bergerak dari arah pusat titik 0 Jakarta di Monumen Nasional (Monas).

Melalui RDTR 2022 terbaru, Pemerintah Daerah DKI Jakarta memberikan kemudahan pembangunan rumah tapak rendah bersama (Low rise condominium) dimana rumah tapak/rumah flat diberikan ketinggian bangunan paling tinggi maksimal 4 lantai. Pembaruan peraturan RDTR tersebut memungkinkan menjamurnya komersialisasi perumahan terjangkau dengan ketinggian minimum sehingga pengurusan IMB dan AMDAL kondominium dapat diminimalisasi sehingga harapan kedepannya, perumahan pribadi di daerah padat penduduk dapat dikurangi dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di pusat kota dapat ditingkatkan yang berdampak pada pemanfaatan ruang yang lebih optimal di wilayah DKI Jakarta.

Kesimpulan

Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang sebentar lagi akan kehilangan gelar Ibukotanya semakin berbenah menjadi kota ekonomi global. Sebagaimana kota pada umumnya, evolusi ruang perkotaan dari yang sebelumnya merupakan car-centric menuju human-centric perlu kita pahami sebagai tanda positif perubahan arah pembangunan perkotaan dimulai dari pusat ekonomi Indonesia, Jakarta. Melalui analisis penggunaan tata ruang, kita sebagai masyarakat umum mampu mengetahui seluk-beluk bentuk kota Jakarta secara umum ditinjau dari beberapa sisi historis dan geografis.

— — —

Tim Datains juga membuat publikasi analisis di Tableau terkait dengan Tata Ruang Jakarta. Silakan cek di link berikut: https://public.tableau.com/views/TataRuangJakartadalamGrid/Dashboard1?:language=en-US&publish=yes&:display_count=n&:origin=viz_share_link

References

BPS. (2022). Jumlah Penduduk Provinsi DKI Jakarta Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin 2020–2022. Diakses dari https://jakarta.bps.go.id/indicator/12/111/1/jumlah-penduduk-provinsi-dki-jakarta-menurut-kelompok-umur-dan-jenis-kelamin.html

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. 2022. Data RDTR DKI Jakarta Tahun 2022. Diakses dari jakartasatu.jakarta.go.id

Uber. (2018). H3: Uber’s Hexagonal Hierarchical Spatial Index. uber.com/en-ID/blog/h3/

--

--