Analisis Mobilitas dan Aktivitas Massa di Malioboro sebagai Destinasi Favorit Wisata Yogyakarta

Grafik simulasi mobilitas dari satu tempat ke tempat lain

Malioboro merupakan salah satu destinasi wisata belanja yang paling ikonik di Yogyakarta. Aksesibilitas yang terjangkau dengan berbagai moda perjalanan jarak jauh yang ada menjadi salah satu alasan yang menjadikan Malioboro destinasi paling populer di kota budaya ini. Dengan menggunakan anonymized data aggregat geospatial, kita dapat memperoleh analisis pergerakan dan aktivitas orang-orang di Malioboro.

Perjalanan dan Aksesibilitas Malioboro Sebagai Destinasi Wisata Favorit

Photo by Agto Nugroho on Unsplash

Pada analisis kali ini, dilakukan pemetaan kunjungan (trips) orang-orang yang berkunjung ke Malioboro dari berbagai moda transportasi jarak jauh yang tersedia di Yogyakarta. Ada 5 kanal transportasi publik yang dijadikan sampel, yaitu New Yogyakarta International Airport (NYIA), Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, dan Terminal Giwangan. Dengan menggunakan data mobilitas orang akan didapatkan data in-flow (pergerakan masuk) dan out-flow (pergerakan keluar) masing-masing tempat dengan Malioboro.

Penentuan Waktu untuk Pengambilan Data

Grafik jumlah perjalanan di bulan Maret 2020

Dari sampel data di bulan Maret, dapat dilihat pergerakan terbanyak terjadi pada tanggal 19, yang merupakan hari Kamis. Jika dianalisis pergerakannya, ada kemungkinan bahwa daftar perjalanan ini kebanyakan dilakukan oleh yang berada di wilayah Yogyakarta saja, bukan orang-orang yang datang dari luar melalui kanal-kanal moda transportasi jarak jauh yang tersedia. Oleh karena itu, diambil data pada satu hari setelahnya, yaitu hari Jumat, 20 Maret 2020. Asumsinya, waktu tersebut merupakan waktu menjelang akhir pekan, yang merupakan waktu umum orang berlibur, terutama dari luar daerah Yogyakarta.

Grafik jumlah trip production dan trip attraction di beberapa kota

Setelah menentukan tanggal yang cocok, dilakukan pengambilan data di tanggal tersebut. Hasilnya dapat dilihat bahwa terdapat banyak kunjungan ke Yogyakarta dari berbagai provinsi di Indonesia. Data kunjungan terbesar didominasi oleh kunjungan dari wilayah Jawa, dengan Jawa Tengah sebagai nomor satu.

Kemudian, untuk melihat informasi lebih spesifik lagi, dilakukan pengambilan data di hari tersebut pada titik-titik masuk transportasi jarak jauh Yogyakarta dan Malioboro sebagai destinasi wisata yang dikaji saat ini.

Setelah mendapatkan semua data, dilakukan pembersihan data dan pengecekan nomor id unik setiap nomor pada setiap kanal masuk Yogyakarta dengan orang-orang yang berada di Malioboro, dan juga sebaliknya. Hasil dari proses ini akan menunjukkan data orang-orang yang bergerak dari titik satu ke yang lain dan di Malioboro.

Pada tahap ini kita dapat memperoleh informasi jumlah asal dan tujuan pada titik semua mobilitas orang yang dari dan ke Malioboro. Mobilitas orang tersebut akan menyimpulkan distribusi asal dari densitas massa di Malioboro dan sebaliknya. Analisis lebih dalam lagi bisa menghasilkan trip production dan trip attraction pada masing-masing titik untuk memberikan informasi seberapa banyak orang yang keluar dan masuk di titik-titik tersebut.

Matriks mobilitas di beberapa daerah di Yogyakarta

Gambar di atas adalah matriks heat map asal dan tujuan Malioboro dari dan ke kanal-kanal transportasi jarak jauh, dengan sumbu Y menunjukkan titik asal dan sumbu X adalah titik tujuannya. Kita dapat melihat akses ke Malioboro secara berurutan terdiri dari Stasiun Tugu, Giwangan, Lempuyangan, Bandara Adi Sucipto, dan NYIA. Stasiun Tugu menjadi yang paling banyak bisa dikarenakan jaraknya yang paling dekat dengan Malioboro. Bandara NYIA menjadi tempat yang paling sedikit jumlah pergerakannya karena saat itu memang belum beroperasi, namun tetap ada orang yang bergerak dari wilayah sekitar ke Malioboro.

Pada heat map tersebut, terdapat banyak orang yang keluar dari Malioboro ke Adi Sucipto dan Giwangan dalam jumlah ribuan. Kita dapat mengasumsikan pergerakan ini adalah orang-orang yang akan pulang dari berwisata di hari aktif (weekday), ataupun orang Yogyakarta di sekitar Malioboro yang juga akan berlibur ke luar kota dengan menggunakan pesawat atau bus. Asumsi ini juga berlaku pada Stasiun Tugu dan Lempuyangan yang juga memiliki angka pergerakan dalam ratusan, yang mengasumsikan orang dari Yogyakarta yang pulang kampung atau weekend di luar kota.

Analisis lain mengenai asumsi pergerakan dari asal tujuan juga bisa dilihat dari mobilitas orang dari titik kanal satu ke yang lain. Orang-orang yang bergerak dari titik satu ke yang lain selain Malioboro diasumsikan sebagai berikut.

  1. Orang-orang yang menjadikan Yogyakarta sebagai tempat transit untuk berpindah moda, yaitu orang-orang yang berencana ke suatu kota, namun perlu ke Yogyakarta terlebih dahulu menggunakan sebuah moda, lalu berpindah dengan moda yang lain untuk sampai ke tujuan.
  2. Jalur bus ataupun shuttle yang melakukan feeding dari titik kanal satu ke yang lain untuk mengambil penumpang.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya orang bergerak misalnya dari Terminal Giwangan ke Bandara Adi Sucipto, Stasiun Tugu ke Lempuyangan, Bandara Adi Sucipto ke Stasiun Tugu, dan titik-titik sebaliknya. Sebagai catatan, pada analisis ini tidak mengambil data orang yang asal dan tujuannya berada di tempat yang sama. Oleh karenanya, titik-titik yang asal dan tujuannya sama dibuat nol.

Dari analisis asal dan tujuan itu didapat beberapa rangkuman yang bisa dihasilkan. Dengan melakukan rangkuman data seluruh asal dan seluruh tujuan, didapatkan trip production dan trip attraction. Trip production mengindikasikan seluruh orang yang bergerak keluar dari daerah tersebut, sedangkan trip attraction mengindikasikan seluruh orang yang bergerak masuk. Malioboro memiliki jumlah perjalanan yang masuk lebih besar sebanyak sekitar 60% daripada yang keluar.

Grafik jumlah trip production dan trip attraction di beberapa titik di Yogyakarta

Dalam hal aksesibilitas, kita dapat melihat bahwa untuk kondisi orang-orang yang bergerak ke Malioboro, moda bus, kereta, dan pesawat pada titik masuk Yogyakarta memiliki persentase yang cukup seimbang, dengan stasiun Tugu menjadi yang tertinggi. Hal ini menunjukkan moda kereta api menjadi salah satu yang paling favorit, ditambah dengan letak Stasiun Tugu yang berdampingan langsung dengan Malioboro sehingga orang bisa langsung berwisata belanja di sana setelah keluar dari stasiun.

Sedangkan pada kondisi orang-orang yang bergerak dari Malioboro, Terminal Giwangan menjadi kanal terbesar disusul Bandara Adi Sucipto dan kanal yang lain. Hal ini mengasumsikan banyak orang yang berlibur ke luar Yogyakarta memilih menggunakan transportasi bus dan pesawat. Jika dihubungkan lagi dengan pergerakan orang di antara Terminal Giwangan dengan bandara Adi Sucipto, bisa juga diasumsikan banyak orang yang bergerak ke Terminal Giwangan sebagai transit ke arah Bandara Adi Sucipto.

Diagram persentase mobilitas di beberapa titik di Yogyakarta

Memetakan Human Daily Activity (HDA) di Malioboro dan Kanal-Kanal Transportasi Publik

Dengan memetakan HDA dalam bentuk heat map dengan frekuensi waktu 24 jam per minggu, kita akan memperoleh gambaran frekuensi waktu-waktu teramai dari tempat-tempat tersebut. Semakin terang warna kotak pada gambar menunjukkan semakin ramai tempat tersebut pada jam dan hari yang ditentukan. Sedangkan semakin gelap warnanya menunjukkan semakin sepi tempat tersebut.

Matriks HDA di Malioboro pada bulan Maret 2020

Malioboro sebagai tempat wisata paling populer di Yogyakarta diketahui paling ramai dikunjungi pada setiap harinya pada sekitar pukul 9.00 atau 10.00 pagi hingga pukul 22.00 dan 23.00. Pada hari Jumat, atau menjelang akhir pekan, kita dapat melihat bahwa puncak keramaian di Malioboro terjadi pada pukul 19.00. Hal ini dapat kita asumsikan bahwa pada hari dan jam tersebut terdapat banyak kedatangan ke Yogyakarta, salah satunya dari Stasiun Tugu yang berada tepat di samping Malioboro. Selain itu, pada hari Sabtu dan Minggu, puncak keramaian Malioboro di siang hari terjadi pada pukul 10.00 dan 11.00 dan pada malam hari terjadi lagi pada pukul 19.00 dan 20.00.

Matriks HDA di Bandara NYIA pada bulan Maret 2020

Sedangkan aktivitas di New Yogyakarta International Airport selama bulan Maret cenderung berbeda dengan yang lainnya karena waktu aktifnya bukan pada jam kerja normal, namun pada dini hari. Seperti diketahui bahwa NYIA belum beroperasi secara publik pada bulan Maret, sehingga kunjungan yang terjadi pada waktu tersebut bisa diasumsikan bukan berasal dari masyarakat umum.

Matriks HDA di Bandara Adi Sucipto pada bulan Maret 2020

Aktivitas Bandara Adi Sucipto, seperti tergambar pada grafik heat map di atas cenderung ramai pada siang hari, terutama pada hari Kamis, dengan keramaian puncak terjadi antara pukul 9.00 hingga pukul 14.00.

Matriks HDA di Stasiun Tugu pada bulan Maret 2020

Pada kasus Stasiun Tugu, salah satu puncak keramaian terjadi pada hari Rabu siang hari sekitar pukul 12.00 hingga pukul 16.00. Puncak keramaian lainnya terjadi pada hari Jumat pukul 19.00, yaitu menjelang akhir pekan.

Matriks HDA di Stasiun Lempuyangan pada bulan Maret 2020

Di Stasiun Lempuyangan, puncak keramaian ada pada Senin siang pukul 11.00. Keramaian lainnya terjadi pada akhir pekan (Jumat, Sabtu, Minggu) pada pukul 12.00.

Matriks HDA di Terminal Giwangan pada bulan Maret 2020

Puncak keramaian di Terminal Giwangan lebih bervariasi, walaupun semuanya masih terjadi pada siang hari, terutama pada hari Senin dan Jumat pukul 19.00, yaitu pada awal dan akhir pekan.

Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Giwangan umumnya ramai ketika hari-hari kerja normal, namun puncak keramaian yang sebenarnya terjadi pada menjelang akhir pekan, seperti hari Jumat sekitar pukul 19.00. Bisa diasumsikan bahwa aktivitas kunjungan yang banyak ini disebabkan oleh orang-orang yang baru tiba di Yogyakarta dan orang-orang yang akan meninggalkan Yogyakarta untuk berakhir pekan.

Analisis mobilitas dan human daily activity di Malioboro dan tempat-tempat transportasi publik, seperti terminal, bandara, dan stasiun ini, dapat membantu kita mengetahui waktu-waktu teramai di tempat-tempat tersebut, dan membantu kita menentukan waktu yang paling tepat untuk bepergian di Yogyakarta.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari analisis selama bulan Maret ini adalah sebagai berikut.

  • Pertama, umumnya, kunjungan ke Yogyakarta didominasi oleh kunjungan dari provinsi Jawa Tengah, diikuti provinsi-provinsi lain yang masih ada di Jawa.
  • Kedua, kunjungan ke Malioboro umumnya didominasi oleh orang-orang yang tiba di Yogyakarta dengan kereta yang berhenti di Stasiun Tugu. Hal ini menunjukkan bahwa moda transportasi kereta api adalah moda paling populer pilihan orang-orang ketika berkunjung ke Yogyakarta.
  • Ketiga, pada kondisi orang-orang yang bergerak dari Malioboro, Terminal Giwangan menjadi kanal terbesar disusul Bandara Adi Sucipto dan kanal yang lain. Hal ini menunjukkan banyak orang yang berlibur ke luar Yogyakarta memilih menggunakan transportasi bus dan pesawat.
  • Terakhir, dengan melihat heat map Human Daily Activity, dapat kita simpulkan bahwa Malioboro dan kanal-kanal transportasi publik di Yogyakarta (kecuali NYIA) cenderung ramai dan mencapai puncaknya pada jam-jam kerja aktif. NYIA menjadi satu-satunya pengecualian pada kasus ini karena pada bulan Maret, bandara ini belum beroperasi untuk publik.

Hasil pengolahan data pola mobilitas dan aktivitas pergerakan massa di Malioboro selama bulan Maret memperlihatkan waktu keramaian di tempat wisata dan moda transportasi paling populer. Pengolahan data serupa juga dapat diterapkan untuk menganalisis pergerakan dan aktivitas massa di tempat-tempat wisata publik lainnya. Hasilnya dapat membantu kita untuk mempelajari perilaku pergerakan masyarakat di tempat umum.

Inspiring The World with Data www.datains.id

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.